Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah SWT

Sebesar apapun kesalahan dan dosa kita, jangan pernah menyerah untuk bertobat. Yakinilah, selalu ada rahmat Allah yang membuat kita lebih baik

يبكي يدخل الله الجنة وهو يضحك…

“Barangsiapa yang melakukan dosa dan ia dalam keadaan tertawa (senang) ketika melakukannya maka Allah akan memasukan ia ke dalam Neraka dalam keadaan menangis dan barang siapa yang taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala ia menangis (takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala) maka Allah akan memasukannya ke dalam Surga dalam keadaan tertawa (bahagia),” demikianlah perkataan seorang ulama ahli zuhud.

Ulama-ulama ahli hikmah begitu gencar mengingatkan manusia akan dosa-dosa yang kita lakukan selama di dunia meskipun itu adalah dosa kecil. Seperti dikemukan para ahli hikmah  :

قال بعض الحكماء : ” لا صغيرة مع الاصرار و لا كبيرة مع الاستغفار ”

“Tak ada dosa kecil jika tak di lakukan terus menerus dan tak ada dosa besar bersama dengan adanya istigfar (meminta ampunan)”.

Kata “al-ishror” disini dapat kita interpretasikan sebagai muwazhobah atau adanya indikasi melakukan dosa kecil terus menerus hingga menjadi besar.

ADAKAH RAH犀利士 MAT ALLAH?

Banyak manusia terdahului oleh rasa pesimisnya di banding rasa optimisnya, perasaan manusia seperti ini merupakan akar masalah munculnya sikap sinis dan skeptis dalam diri manusia, dimana mereka hanya memandang kegagalan di banding kesuksesan, terikat pesimisme daripada optimisme.

Akhirnya akan bermuara pada penyakit skeptisisme manusia yang mempertanyakan adakah rahmat Allah Subhanahu Wata’ala bagi saya? Akankah Allah mengampuni dosa saya?

Itulah salah satu penyakit manusia yang selalu bersemayam dalam hatinya, selalu dihantui rasa keragu-raguan, dan selalu dihantui rasa ketidak pastian.

Allah Subhanahu Wata’ala nyatakan dalam firmannya :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُو犀利士 َ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54(

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’alamengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Dalam tafsir Ibn Katsir, beliau menerangkan bahwa ayat tersebut :

هذه الآية الكريمة دعوة لجميع العصاة من الكفرة وغيرهم إلى التوبة والإنابة ، وإخبار بأن الله يغفر الذنوب جميعا لمن تاب منها ورجع عنها ، وإن كانت مهما كانت وإن كثرت وكانت مثل زبد البحر . ولا يصح حمل هذه [ الآية ] على غير توبة ; لأن الشرك لا يغفر لمن لم يتب منه .

”Ayat yang mulia ini merupakan dakwah (ajakan) kepada semua orang yang bermaksiat baik dari kalangan kafir maupun selainnya untuk bertaubat kepada allah swt, dan merupakan khobar (pemberitaan) sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’alamengampuni seluruh dosa bagi siapa saja yang bertobat dan kembali padanya dari dosa tersebut, sekalipun dosa itu sudah seluas lautan. Dan tidak sah mengartikan ayat ini pada selain taubat; karena syirik (menyekutukan) Allah Subhanahu Wata’alati dak akan diampuni bagi orang yang tidak bertaubat dari kesyirikan tersebut.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda dalam hadistnya:

الفاجر الراجي لرحمة الله تعالي أقرب الي الله تعالي من العابد المقنط

“Pendosa yang selalu mengaharap rahmat Allah Subhanahu Wata’ala itu lebih dekat kepada Allah dibanding hamba yang putus asa akan rahmat Allah.”

Sejatinya, sebagai seorang muslim haruslah pantang menyerah dari rahmat Allah Subhanahu Wata’ala. Sebesar apapun kesalahan kita, sebesar apapun dosa kita, jangan pernah menyerah untuk bertobat dan mengakui kesalahan kepada Allah. Disana ada dzat yang maha pengampun dan pemaaf. Inilah obat yang Allah  berikan kepada hambanya agar selalu berkeyakinan adanya rahmat Allah.

Sebagai contoh, Allah mengampuni para pelaku dosa besar dengan taubatnya ; dalam kasus kriminal pembunuhan terhadap sesama muslim walaupun ia dianggap fasik dan perkaranya merupakan hak veto Allah dikehendakinya untuk diampuni atau di azab serta mendapatakan hukuman qishos, namun jika ia bertaubat dengan sebenar benarnya dan dengan seluruh syarat taubat,  Allah Subhanahu Wata’ala akan menerima taubatnya. Perspektif Ini merupakan konsensus mayoritas ulama dari mazhab Syafiiyah, Hanafiyah, Hanabilah dan beberapa perspektif ulama malikiyah serta Zaidiyah.

Landasan hukum mayoritas ulama ini berdasarkan pada firman Allah Subhanahu Wata’ala:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengannya, dan ia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS: an-nisa 116).

KEGAGALAN 

Penyakit kedua pada diri manusia selain merasa jauh dan putus asa dari rahmat Allah adalah merasa gagal.

Sejatinya, sebagai seorang muslim ketika ia diterpa dosa dan kesalahan janganlah langsung merasa gagal dalam menjalani hidup, namun tetap berkeyakinan adanya rahmat Allah Subhanahu Wata’ala, Dan terus memberanikan diri melangkah menjalani hidup yang lebih baik.

REHABILITASI HATI

Dibalik pertaubatan seorang hamba ini, ada hikmah yang luar biasa didalamnya yaitu perbaikan dan pemulihan hati (rekonsiliasi hati), kenapa demikian? Karena,  dengan taubatnya seorang hamba dan pengakuannya akan dosa yang ia lakukan berniat untuk tidak melakukan kembali akan memghadirkan ketenangan hati dan mendekatkannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Tak sedikit kisah yang kita dengar dari pertaubatan seorang hamba akan dosa-dosanya yang kemudian menjadikan ia sebagai hamba yang mulia, hamba yang begitu dekat dengan Allah. Dalam kitab Nasaihul Ibad dikatakan :

من ترك الذنوب رق قلبه

“Barangsiapa yang meninggalkan dosa maka hatinya akan lembut”.

Dengan kita bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosa Allah akan memberikan kelembutan hati kepada kita, selalu ingat akan perintah dan larangannya, dan akan menjadikan kita hamba yang begitu dekat dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Wallahu a’lam.[]