MUNGKIN KITA MUNAFIK

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ،وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ،وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ صَلَوَاتُ رَبِّ وَسَلاَمُهُ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ،يَامَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ،قالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

Khutbah Jumat Pertama

                Wahai orang-orang yang beriman. Apakah yang ada di masjid ini adalah orang-orang yang beriman? Mungkin iya, dan mungkin juga tidak. ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash pernah mengatakan,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَجْتَمِعُونَ فِي الْمَسَاجِدِ لَيْسَ فِيهِمْ مُؤْمِنٌ

“Akan datang suatu masa, yang mana orang-orang berkumpul di masjid namun tidak ada satu pun dari mereka yang beriman.” [1]Al Hakim

                Ada orang-orang yang beriman, namun bercampur dengan kemunafikan. Entah apakah masa itu sudah datang atau belum. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

(آل عمران : ۱۰۲)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

(QS. Ali ‘Imran[3]: 102)

Takut Ditimpa Kemunafikan

Ahibbati Fillah,

                Pernahkah kita merenungkan, duduk di rumah kita di tengah kegelapan malam. Ketika keluarga kita tidur semua, kita bertanya kepada diri sendiri, “Saya ini benar-benar beriman atau pura-pura beriman?” Mungkin sebagian kita ujub dengan diri sendiri. Ibnu Abi Mulaika, seorang tabi’in, beliau mengatakan,

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ النِّفَاقَ

“Aku berjumpa dengan 30 dari sahabat Nabi, mereka semua takut dengan penyakit kemunafikan.” [2]HR. Bukhari

                Itu sahabat Nabi Subhanahu wa Ta’ala yang mereka melihat wahyu itu turun. Yang mereka melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyampaikan hadits-haditsnya. Mereka takut ditimpa penyakit kemunafikan. Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengatakan, “Imanku seperti imannya Jibril atau Mika’il.”

Hati Yang Sakit

Ahibbati Fillah,

                Kelompok munafiqun ini mungkin ada di tengah-tengah shaf kita. Mungkin dia shalat bersama kita. Kalau zaman dahulu mereka (orang-orang munafiqun) shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka datang kepada beliau dan dengan lantang mengatakan,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.”

(QS. Al-Munafiqun[63]: 1)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”

(QS. Al-Baqarah[2]: 8)

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”

(QS. Al-Baqarah[2]: 10)

Sifat Orang Munafik

Ahibbati Fillah,

                Ada satu surah di dalam Al-Qur’an yang bernama surah Al-Munafiqun. Kita perlu duduk dan membaca surat itu, “Apakah aku termasuk di dalamnya?” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Dan mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”

(QS. Al-Munafiqun[63]: 4)

1. Sedikit Mengingat Allah

Ahibbati Fillah,

Di antara sifat orang-orang munafik adalah;

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” 

(QS. An-Nisa'[4]: 142)

                Mereka mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka shalat ketika diperintahkan. Tapi berkaitan dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedikit sekali mereka mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.

2. Berat Hati Mengerjakan Shalat

Kadang kala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selepas shalat subuh bertanya,

أَشَاهِدٌ فُلَانٌ

“Apakah si fulan hadir (untuk shalat jama’ah)?” Para sahabat menjawab, “Tidak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,

أَشَاهِدٌ فُلَانٌ

“Apakah si fulan hadir?” Para sahabat menjawab, “Tidak.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلَاتَيْنِ أَثْقَلُ الصَّلَوَاتِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ

“Sesungguhnya dua shalat ini (shalat isya’ dan shalat subuh) adalah shalat yang paling berat dikerjakan bagi orang-orang munafik.” [3]HR. Abu Dawud No. 554 dan An Nasa’i No. 843

                Kalau kita merasa berat untuk shalat subuh dan isya di masjid, maka merenunglah, “Jangan-jangan saya ini munafik?”

Tanda Orang Munafik

                Nabi ‘Alaihishallatu wa Sallam memberitahukan kepada kita beberapa kriteria orang-orang munafik;

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik ada tiga, (yaitu) jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar janji, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” [4]HR. Bukhari dan Muslim

                Hati-hati yang berbisnis atau berjual-beli dan masih suka harrat (berbohong), jangan-jangan engkau berada di shafnya orang-orang munafik.

                Janji pekan depan, Jum’at depan, bulan depan, hingga setahun dia tidak membayar hutang. Tapi dia berjanji, namun dia ingkar terhadap janjinya.

Islamophobia

Ahibbati Fillah,

                Kalau kita membaca sejarah bagaimana sepak terjang orang-orang munafik di sepanjang sejarah Islam, ternyata mereka adalah orang-orang yang Islamophobia. Mereka itu takut dengan ajaran Islam dan berat menerima hukum-hukum ‘Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.”

(QS. Al-Baqarah[2]: 13)

                Na’uudzu billahi min dzalik. Mereka disuruh beriman seperti berimannya para sahabat, namun mereka menganggap para sahabat adalah orang-orang bodoh.

Su’uzhan Kepada Allah

                Di antara sifat orang-orang munafik yaitu jika mereka melihat kemenangan umat Islam, mereka merasa sakit hati. Jika melihat kekalahan umat Islam, mereka bergembira. Mereka orang-orang yang su’uzhan kepada Allah Jalla Jalaluhu. Berbeda dengan orang-orang beriman yang mereka selalu berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

                Ketika terjadi Perang Ahzab pada tahun ke-5 Hijriyah, kota Madinah diserang dengan 10 ribu pasukan. Apa kata orang-orang munafik?

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.

(QS. Al-Ahzab[33]: 12)

                Sedangkan orang-orang beriman ketika melihat musibah, bencana, dan pasukan perang itu datang, mereka mengatakan,

هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ

“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”.

(QS. Al-Ahzab[33]: 22)

                Mereka selalu yakin dengan janji Allah Jalla Jalaluhu. Jangan sampai kita su’uzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala gara-gara ekonominya sulit. Gara-gara kondisi susah, mulailah kita berprasangka buruk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika sedang senang hatinya, dia mengatakan, “Aku beriman, ini agama yang benar.”

Beriman Di Tepian

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang.”

(QS. Al-Hajj[22]: 11)

                Kalau mendapat kenikmatan/ keluasan rezeki atau kelancaran usahanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia mengatakan, “Ini agama yang benar.”Tapi kalau mendapat cobaan/ fitnah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bubar imannya.

Bersegera Dalam Beramal

Nabi ‘Alaihisshalatu wa Sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” [5]HR. Muslim

                Kita ini sering mendengarkan ceramah/ pidato/ khutbah. Coba tanyakan, berapa yang kita amalkan? Atau kita hanya mengatakan “Ini bagus, penjelasannya detail“. Bukan itu yang diharapkan.

                Abu Darda’ radhiyallahu ta’ala ‘anhu mengatakan, “Mungkin ada saatnya nanti, yang mana iman itu seperti pakaian yang bisa ditanggalkan dan bisa dipakai lagi.”

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Jumat Kedua: Mungkin Kita Munafik?

الْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النبي المصطفى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اقْتَفَى،أَمَّا بَعْدُ

Ahibbati Fillah,

                Di akhir surah Al-Munafiqun di ayat 9-11, ada pelajaran penting untuk orang-orang yang beriman. Ingat, tidaklah takut kepada kemunafikan kecuali orang yang beriman. Orang beriman itu selalu takut. Tidaklah merasa aman dari kemunafikan kecuali dia adalah orang munafik. Dia mengatakan, “Tidak mungkin saya munafik.” Berhati-hatilah!

Jangan Lalai Dari Mengingat Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

(QS. Al-Munafiqun[63]: 9)

                Mengingat dengan kalimat at-thayyibah, Subhanallah Walhamdulillah, Wa Laa Ilaha Illallah, Wallahu Akbar. Na’am, itu di antara kalimat yang perlu kita ingat. Tapi mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati. Kita takut kepada-Nya dan merasa senantiasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.

                Jangan sampai karena kesibukan mencari uang akhirnya tidak lagi memikirkan halal dan haram. Yang penting mendapat uang. Gara-gara anak, terkadang ibadah di nomor sekian. Jangan sampai! Yang melakukan itu akan rugi, karena akan datang satu hari yang anak-anak kita itu tidak berguna untuk kita. Harta yang kita kumpulkan pun tidak bermanfaat untuk kita.

Tujuan Penciptaan Manusia

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna (yang sekarang kita sibuk dengan mereka),”

(QS. Asy-Syu’ara'[26]: 88)

                Sekarang yang ada di dalam benak ana dan Antum semuanya adalah uang, anak-anak, sekolahnya anak-anak, lanjut kuliah, biaya ini dan itu. Subhanallah! Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan agar jangan sampai hal-hal itu membuat kalian lalai dari tujuan diciptakannya manusia, yakni mengabdi kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

                Silakan cari rezeki, silakan mengurus anak-anak karena itu tanggung jawab orang tua. Tapi jangan sampai disibukkan dengan mereka dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

(QS. Al-Munafiqun[63]: 10)

Tidak Akan Bersatu Iman dan Kikir

                Orang munafik itu bakhil kalau disuruh infak. Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan untuk mengeluarkan sifat kemunafikan dengan berinfak dari apa yang Dia rezekikan. Uang yang kita miliki bukanlah milik kita, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberi.

                Maka jangan sampai menunda infak. Sampai datang kematian, tidak bisa lagi infak. Kita minta “Ya Allah, undur umurku satu atau tiga menit, hanya ingin bicara “Itu rumah wakaf buat masjid.” Mau bicara itu? Tidak bisa. Ketika ajal datang, tidak bisa lagi infak.

Ingat kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَلَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Dan tidak akan terkumpul selamanya sifat bakhil dan keimanan di dalam hati seorang hamba.”

(HR. An-Nasa’i no. 3110)

Di mana ada (الشُّحُّ) kikir dan ambisi, maka iman di situ berkurang dan mungkin pergi.

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Munafiqun[63]: 11)

Ketika ajal datang, tidak ada penundaan, jama’ah.

Ahibbati Fillah,

                Hari ini hari Jumat, harinya bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan,

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

(QS. Al-Ahzab[33]: 56)

References

References
1 Al Hakim
2 HR. Bukhari
3 HR. Abu Dawud No. 554 dan An Nasa’i No. 843
4 HR. Bukhari dan Muslim
5 HR. Muslim